Apel Hari Santri di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan: Santri Harus Siap Sambut Indonesia Emas

Apel Hari Santri di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan: Santri Harus Siap Sambut Indonesia Emas

24-10-2026, 07:55 WIB

Admin

JEPARA — Kemeriahan perayaan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada Kamis (22/10/2026) terasa begitu khidmat dan semarak di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan. Bertempat di halaman madrasah, rangkaian peringatan diawali dengan Khotmil Qur'an oleh dewan guru dan tenaga kependidikan (tendik), lalu dilanjutkan dengan Apel Hari Santri Nasional.

Apel tahunan ini diikuti oleh jajaran Pembina dan Pengurus YAPI Nahdlatul Fata, Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, serta ratusan santri dan siswa-siswi MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aitam Asy-Syifa Petekeyan, Kiai Abdullah Manaf, hadir secara langsung memimpin jalannya apel.

Mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", Kiai Manaf menyampaikan pesan mendalam terkait peran strategis santri dalam menyongsong masa depan bangsa.

> "Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi tentang gedung- gedung tinggi atau fasilitas mewah dan canggih, Indonesia emas adalah tentang peradaban yang mulia, masyarakat yang sejahtera, dan bangsa yang bermartabat di mata dunia. Hal tersebut papar Kiai Manaf dapat diraih manakala para santri menegakkan pilar-pilarnya, yaitu akhlak dan ilmu yang kokoh," ujar Kiai Manaf di hadapan ratusan peserta apel.

Lebih lanjut Kiai Manaf menekankan tiga hal utama yang wajib dipersiapkan oleh para santri dalam menghadapi tantangan zaman:

Pertama, menguatkan Karakter dan Akidah: Santri harus mampu menjadi benteng moral masyarakat serta memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Santri harus santun di dunia nyata bijak di dunia maya.

Kedua, menguasai Kunci Masa Depan: Santri diimbau tidak gagap teknologi.

"Tangan kanan boleh menggenggam kitab kuning, namun tangan kiri harus mahir mengoperasikan sains, teknologi, dan bahasa dunia," tegasnya.
 
Ketiga, mengembangkan Ilmu dan Ta'dzim pada Guru: Ilmu pengetahuan dan agama harus selalu berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling mendukung sehingga semakin menambah manfaat. Namun hal tersebut juga harus dibarengi dengan rasa hormat (ta'dzim) dan takzim kepada para kiai serta guru sebagai salah satu sumber ilmu sehingga diraih keberkahan ilmu.

Usai pelaksanaan apel HSN,  kemeriahan dilanjutkan dengan Karnaval Hari Santri yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi MTs-MA NU Nahdlatul Fata. Menempuh rute sepanjang 2 kilometer, para peserta melintasi Jalan Paving, Jalan Randu Sirahan, hingga Jalan Jepara-Bugel, sebelum akhirnya kembali finish di halaman madrasah.
Selama perjalanan, para santri mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap dunia pesantren dan para kiai melalui beragam kreasi properti serta poster berisi pesan-pesan kearifan lokal yang menarik perhatian warga sekitar. ( Sub)





Artikel Lainnya

Gambar DARI GENERASI KE GENERASI KHIDMAT NU MENEGUHKAN ASWAJA DI BUMI JEPARA
01-11-2026, 08:08

DARI GENERASI KE GENERASI KHIDMAT NU MENEGUHKAN ASWAJA DI BUMI JEPARA

DARI GENERASI KE GENERASI KHIDMAT NU MENEGUHKAN ASWAJA DI BUMI JEPARA Nur Khandir Ketua PC. Pergunu Masa Khidmat 2015-2021 Dewan Pendidikan Jepara  (DPJ) Periode 2025-2030 Penulis Buku “Ma’arif NU Jepara Undercover Kugapai Dalam Kenangan” Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926 M) di Surabaya oleh beberapa ulama terkemuka yang kebanyakan adalah pemimpin/pengasuh pesantren. Nahdlatul Ulama (NU) sejak mula dan tanpa malu-malu menyebut dirinya sebagai organisasi yang berjuang mempertahankan Ahlissunnah wal Jama’ah. Sebelum adanya NU pun, pesantren-pesantren adalah gawang utama Ahlissunnah wal Jama’ah. Tentu, bukan sembarang Aswaja. Yang dimaksudkan adalah aswaja yang terutama bermadzhab, dan lebih-lebih lagi yang berada dalam lingkungan empat madzhab besar fikih, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dan secara praktik, masyarakat pesantren dan NU mengamalkan madzhab Syafi’i, kecuali dalam hal yang menyebabkan lebih maslahat pindah ke madzhab lain. Tujuan didirikannya adalah berlakunya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja); menganut salah satu madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), baik secara qauli maupun secara manhaji dalam bidang fiqhnya; dan mengikuti Imam al Junaid al Baghdadi (w. 297 H.) dan Abu Hamid al Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.) dalam bidang tasawufnya. Hadratussyauikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (1287-1336 H./1871-1947 M.) menyebutkan dalam kitabnya Ziyadat Ta’liqat: 23-24) tentang definisi Ahlussunnah:   أما أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين وهم الطائفة الناجية، فقالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون والمالكيون والحنبليون. “Adapun Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fikih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi saw dan atsar Khulafaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-firqah al-najiyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat, yaitu pengikut Madzhab hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali”. Hadratussyauikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menambahkan:   وقد كان مسلمو الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متقفي الآراء والمذهب ومتخذ المأخذ والمشرب فهم في الفقه على المذهب النفيس مذهب الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن الأشعري، وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين.   “Umat Islam penduduk tanah Jawa telah sepakat sejak dulu tentang pandangan keagamaan dan sumber rujukannya. Dalam bidang fikih mengikuti madzhab Muhammad bin Idris asy Syafi’i, di bidang ushuluddin (teologi) berpegang pada madzhab Imam Abi al Hasan al Asy’ari dan dalam bidang Tashawwuf mengikuti madzhab Imam al Ghazali dan asy Syadzili”. Ini berarti NU adalah organisasi keagamaan yang secara konstitusional membela dan mempertahankan Aswaja, dengan disertai batasan yang fleksibel. Sebagai organisasi sosial keagamaan (al-Jam’iyah al-Diniyah wa al Ijtima’iyah), NU merupakan bagian integral dari wacana pemikiran sunni. Terlebih lagi, jika kita telusuri lebih jauh, bahwa penggagas berdirinya NU memiliki pertalian sangat erat dengan para ulama “Haramain” (Makkah-Madinah) pada masa di bawah kekuasaan Turki Utsmani yang ketika itu berhaluan Aswaja. Sejak dari dulu di Jepara, corak Islam dan ulama’-ulama’nya berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah, untuk menyebut beberapa nama antara lain : Kiai Umar Mayong, Kiai Sanwasi, Kiai Abdurrosul, KH. Zain bin Sulaiman, dan KH. Hasbullah, fakta tersebut diperkuat dengan kegiatan dakwah keliling yang dilakukan oleh KH. Asnawi Kudus di wilayah Jepara selatan turut memperkuat berkembangnya paham Aswaja di Jepara. Dengan fakta demikian, ketika NU didirikan pada tahun 1926 tidak begitu sulit bagi organisasi NU mengembangkan cabangnya di Jepara. Mengingat, secara amaliyah komunitas muslim Jepara sejalan dengan NU, selain itu juga sikap yang akomodatif terhadap budaya lokal. Untuk tidak mengatakan sebagai pendiri NU di Jepara beberapa ulama’ generasi awal yang menjadi pengurus NU di Jepara antara lain : KH. Ahmad Fauzan, KH. Abdur Rosyid, KH. Yasin, KH. Faqih, H. Moch Haroen, H.M. Dimjathi, H.M. Cholil, Moech Moechsin, Moch Abdullah dan Moch Machien. Ijinkan lewat tulisan ini, penulis ingin menyampaikan dari generasi ke generasi khidmat NU meneguhkan Aswaja di bumi Kartini Jepara :   Rais Syuriyah PCNU Jepara dari masa ke masa : KH. Ahmad Fauzan Jepara, masa khidmat 1936 – 1972 KH. Abdur Rosyid Saripan, masa khidmat 1972-1981 KH. Yasin Sholeh Gleget Mayong Lor, masa khidmat 1981-1983 KH. Mc. Amin Sholeh Bangsri, masa khidmat 1983-1985 KH. Ali Ahmadi Bugel, masa khidmat 1985-1999 KH. Ahmad Kholil Bakalan Kalinyamatan, masa khidmat 1999-2014 KH. Kamil Ahmad Purwogondo Kalinyamatan,  masa khidmat 2014-2015 KH. Ubaidillah Noor Umar Bandungharjo Donorojo, masa khimdat 2015-2021 KH. Hayatun Nufus Abdullah Khadziq Gemiring Lor Nalumsari, masa khidmat 2021-2026   Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara dari masa ke masa : KH. Abdur Rosyid Saripan, masa khidmat 1936-1940 H. Pranoto Potroyudan, masa khidmat 1940-1955 K. Ismail Jepara, masa khidmat 1955-1977 KH. Zubaidi Ali Panggang, masa khidmat 1977-1987 KH. Muhammady Qosim, B. Sc. Pengkol, masa khidmat 1987-2000 KH. Mahfudz Asymawi Pecangaan Kulon, masa khimdat 2000-2001 KH. Ahmad Zuhud Saripan, masa khidmat 2001-2005 KH. Nuruddin Amin, S.Ag., M.M. Bangsri, masa khimdat 2005-2012 Drs. KH. Asyhari Syamsuri, M.M. Bapangan, masa khidmat 2012-2015 KH. Hayatun Nufus Abdullah Khadziq Gemiring Lor Nalumsari, masa khidmat 2015-2021 KH. Charis Rohman Sinanggul Mlonggo, masa khidmat 2021-2026 Referensi : Dokumen Muktamar NU di Magelang tahun 1939 Buku KH. Ahmad Fauzan (Biografi, Pemikiran, dan Peranannya di Jepara) M. Dalhar 2022 Buku Ma’arif NU Jepara Undercover Kugapai Dalam Kenangan, Nur Khandir 2024 Zakaria Anshori (Ketua PC LTN NU Jepara 2010-2015) Makalah KH. Ahmad Fauzan dan Jejaring Ulama’ di Jepara dari Perang Diponegoro Sampai Awal Kemerdekaan Dr. Muh. Khamdan, MA. Hum. Wawancara di rumahnya Gus Bin Himma Muhammad Burhan, M.Ag. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) pada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, pada tanggal 15 Maret 2026 M / 25 Ramadhan 1447 H, beliau mendapat cerita dari abahnya, dulu H. Pranoto (keluarga wedono, beliau masih kerabat KH. Ahmad Fauzan dari istrinya yaitu Ibu Nyai Hj. Mukminah) pernah menjadi ketua Tanfidziyah PCNU Jepara, seorang birokrat ahli dibidang administrasi tata kelola pemerintahan yang alamat rumahnya Potroyudan Jepara, sekarang menjadi Jalan Pemuda Jepara, ancar-ancar rumahnya sekarang ditempati Gedung BNI Jepara.
Selengkapnya
Gambar Apel Hari Santri di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan: Santri Harus Siap Sambut Indonesia Emas
24-10-2026, 07:55

Apel Hari Santri di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan: Santri Harus Siap Sambut Indonesia Emas

JEPARA — Kemeriahan perayaan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada Kamis (22/10/2026) terasa begitu khidmat dan semarak di MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan. Bertempat di halaman madrasah, rangkaian peringatan diawali dengan Khotmil Qur'an oleh dewan guru dan tenaga kependidikan (tendik), lalu dilanjutkan dengan Apel Hari Santri Nasional. Apel tahunan ini diikuti oleh jajaran Pembina dan Pengurus YAPI Nahdlatul Fata, Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, serta ratusan santri dan siswa-siswi MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aitam Asy-Syifa Petekeyan, Kiai Abdullah Manaf, hadir secara langsung memimpin jalannya apel. Mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", Kiai Manaf menyampaikan pesan mendalam terkait peran strategis santri dalam menyongsong masa depan bangsa. > "Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi tentang gedung- gedung tinggi atau fasilitas mewah dan canggih, Indonesia emas adalah tentang peradaban yang mulia, masyarakat yang sejahtera, dan bangsa yang bermartabat di mata dunia. Hal tersebut papar Kiai Manaf dapat diraih manakala para santri menegakkan pilar-pilarnya, yaitu akhlak dan ilmu yang kokoh," ujar Kiai Manaf di hadapan ratusan peserta apel. Lebih lanjut Kiai Manaf menekankan tiga hal utama yang wajib dipersiapkan oleh para santri dalam menghadapi tantangan zaman: Pertama, menguatkan Karakter dan Akidah: Santri harus mampu menjadi benteng moral masyarakat serta memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Santri harus santun di dunia nyata bijak di dunia maya. Kedua, menguasai Kunci Masa Depan: Santri diimbau tidak gagap teknologi. "Tangan kanan boleh menggenggam kitab kuning, namun tangan kiri harus mahir mengoperasikan sains, teknologi, dan bahasa dunia," tegasnya.   Ketiga, mengembangkan Ilmu dan Ta'dzim pada Guru: Ilmu pengetahuan dan agama harus selalu berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling mendukung sehingga semakin menambah manfaat. Namun hal tersebut juga harus dibarengi dengan rasa hormat (ta'dzim) dan takzim kepada para kiai serta guru sebagai salah satu sumber ilmu sehingga diraih keberkahan ilmu. Usai pelaksanaan apel HSN,  kemeriahan dilanjutkan dengan Karnaval Hari Santri yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi MTs-MA NU Nahdlatul Fata. Menempuh rute sepanjang 2 kilometer, para peserta melintasi Jalan Paving, Jalan Randu Sirahan, hingga Jalan Jepara-Bugel, sebelum akhirnya kembali finish di halaman madrasah. Selama perjalanan, para santri mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap dunia pesantren dan para kiai melalui beragam kreasi properti serta poster berisi pesan-pesan kearifan lokal yang menarik perhatian warga sekitar. ( Sub)
Selengkapnya
Gambar HIMMAH DAN KONSISTENSI YANG TAK PERNAH HENTI
22-10-2026, 10:22

HIMMAH DAN KONSISTENSI YANG TAK PERNAH HENTI

لِكُلٍّ إِلَى شَأْوِ الْعُلَا حَرَكَاتٌ وَلَكِنْ عَزِيزٌ فِي الرِّجَالِ ثَبَاتُ   "Setiap orang memiliki usaha untuk mencapai derajat yang tinggi, tetapi hanya sedikit orang yang mampu tetap teguh dan konsisten." (Ta'limul Muta'allim)   Dari Madrasah dan Pesantren kita belajar bahwa himmah yang tinggi sudah seharusnya diiringi dengan konsistensi yang tak pernah henti. Sebab, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah atau seberapa tinggi kita mencapai cita-cita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga niat, adab, dan ketawadhuan dalam setiap langkahnya. Dan sejauh apa pun kita berlayar, sehebat apa pun kita nanti, jangan pernah lupa bahwa kita tetaplah santri yang senantiasa butuh akan mengaji dan tholabul ilmi. Sebab, ilmu bukan sekadar untuk meninggikan derajat diri, melainkan juga untuk memberikan manfaat bagi sesama serta mendekatkan diri kepada Sang ilahi rabbi. Semoga dimapun Kita berada, keberkahan doa para guru dan kiai senantiasa menyertai setiap ikhtiar kita semua. Selamat Hari Santri Nasional 2026. (Ahmad Dhiyaul Wahid - France)
Selengkapnya
Gambar MEMUPUK MODERASI BERAGAMA, MELALUI KURIKULUM BERBASIS CINTA
21-10-2026, 10:19

MEMUPUK MODERASI BERAGAMA, MELALUI KURIKULUM BERBASIS CINTA

PENDAHULUAN Sebagai guru kami menyadari bahwa moderasi beragama sangat penting sebagai dasar murid untuk menghadapi dunia yang selalu dinamis dan berubah-ubah saat ini. Sehingga perlu pembelajaran untuk menata diri agar dapat fleksibel (lentur) dalam menghadapi setiap perbedaan apalalagi kita hidup pada masyarakat dengan mayoritas Muslim di Jepara. Hal ini sangat penting karena di masa depan nanti akan lebih menantang dari zaman sekarang akibat perubahan sosial yang semakin masif. Jika dasar fleksibilitas tersebut tidak dimiliki anak maka di masa depan nanti akan menjadi bumerang dan menghambat kemajuan dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045. Dapat kita lihat dalam beberapa dekade terakhir ini, tantangan dalam beragama kerap diwarnai oleh klaim kebenaran tunggal, sikap intoleran, dan prasangka buruk antar kelompok. Fenomena ini kerap kali masuk ke lingkungan pendidikan formal, tempat di mana generasi muda dibentuk. Madrasah yang seharusnya menjadi ruang inklusif dan ramah keragaman kadang kala justru menjadi persemaian benih-benih egoisme diri. Oleh karena itu, gagasan moderasi beragama menjadi agenda penting nasional untuk memupuk toleransi pada generasi muda Indonesia. Moderasi beragama bukan berarti memoderasi dalam agama itu sendiri, karena agama pada hakikatnya sudah sempurna dan mengajarkan kebaikan. Memoderasi adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama pemeluknya agar tetap berada di jalur tengah (wasathiyah). Untuk mewujudkan hal tersebut secara berkelanjutan, pendidikan adalah benteng utama. Disinilah pentingnya menghadirkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi pedagogis untuk memupuk moderasi beragama sejak dini.   PENTINGNYA CINTA DALAM MEMUPUK MODERASI BERAGAMA Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah sekadar tumpukan materi pelajaran baru, melainkan sebuah orientasi dan metodologi dalam proses pembelajaran. Cinta dalam konteks ini dipahami sebagai empati yang mendalam, rasa hormat terhadap martabat kemanusiaan, serta dorongan untuk mengasihi sesama makhluk tanpa dibatasi oleh sekat dogmatis. Selama ini, pendidikan agama kerap berfokus pada dimensi formal, tekstual, dan doktrinal yang kaku. Pembelajaran agama seringkali terjebak pada dikotomi penekanan fikih atau tata hukum yang berpusat pada surga dan neraka, serta menanamkan sikap defensif terhadap kelompok luar (agama lain).  Jika pendekatan tersebut tanpa dibentengi oleh rasa cinta dan kemanusiaan, maka akan rentan melahirkan manusia yang cakap secara ritual, tetapi tumpul secara sosial dan emosional. Kurikulum berbasis cinta mengalihkan titik tekan pembelajaran dari ketakutan menuju kasih sayang. Pendidikan agama dan kewarganegaraan dirancang untuk mengetuk pintu hati murid, mengasah kepekaan nurani, dan menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh manusia adalah saudara dalam kemanusiaan. Sebagaimana ungkapan masyhur Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Sehingga kasih sayang kepada sesama manusia sangat penting dalam mengasah moderasi beragama.   PILAR UTAMA PEMBENTUKAN MODERASI BERAGAMA Penerapan kurikulum berbasis cinta untuk memupuk moderasi beragama dapat ditopang melalui empat pilar utama:  Literasi Keagamaan yang benar dan Inklusif Langkah awal dari kurikulum berbasis cinta adalah membangun literasi keagamaan yang benar dan inklusif. Ketakutan dan kebencian terhadap kelompok lain sering kali bersumber dari ketidaktahuan seseorang. Kurikulum harus menyediakan ruang dialog interaktif yang memungkinkan siswa memahami ajaran dasar agama-agama lain secara objektif dan bernuansa rasa hormat. Materi ajaran difokuskan pada hal-hal yang universal yang berkaitan dengan kepentingan seluruh umat beragama, seperti ajaran tentang perdamaian, keadilan, kejujuran, dan belas kasih yang ada di setiap agama. Mengutamakan Nilai Kemanusiaan daripada Dogmatisme yang Kaku Cinta mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan saat berhadapan dengan perbedaan. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, siswa diajarkan untuk melihat pemeluk agama lain sebagai manusia yang sama di mata Tuhan YME. Pendidikan menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh mengurangi hak-hak dasar seorang manusia untuk dicintai, dihormati, dan dilindungi. Ketika rasa cinta kepada kemanusiaan telah mengakar, dogmatisme kaku akan luntur dengan sendirinya. Penerapan Pembelajaran Berbasis Pengalaman Cinta dan kasih sayang tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah satu arah atau hafalan teks saja, cinta dan kasih sayang itu harus dirasakan dan dipraktikkan. Oleh karena itu, metodologi pembelajaran harus bergeser ke arah pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Madrasah dapat merancang kegiatan sosial lintas iman, kunjungan budaya, hingga kerja bakti di lingkungan yang melibatkan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda. Melalui interaksi nyata ini, siswa mengalami langsung indahnya kebersamaan dan menumbuhkan empati sosial yang kuat. Keteladanan Pendidik Guru adalah muara utama dari Kurikulum Berbasis Cinta. Guru yang moderat dan penuh kasih akan memancarkan energi positif di kelas. Dalam kurikulum ini, guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi juga sebagai fasilitator jiwa (nurturer of soul). Guru harus memiliki sikap terbuka, tidak menghakimi, serta menjadi teladan dalam menghargai perbedaan pendapat di dalam ruang kelas.   IMPLIKASI DAN STRATEGI IMPLEMENTASI DI SEKOLAH Mengintegrasikan kurikulum berbasis cinta ke dalam sistem pendidikan nasional tidak harus berarti merombak seluruh struktur kurikulum yang ada, melainkan memasukkan nilai, pendekatan, dan suasana belajar yang berorientasi pada kasih sayang ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila. Strategi pengoreksian bahan ajar perlu ditingkatkan menjadi lebih baik. Bahan ajar perlu dibersihkan dari narasi-narasi kebencian atau sudut pandang yang dapat merendahkan keyakinan orang lain. Narasi yang diangkat adalah kisah-kisah keteladanan tokoh-tokoh perdamaian, toleransi, dan aksi kemanusiaan tanpa memandang sekat agama dan sosial. Penciptaan Ekosistem Sekolah yang Ramah dan Inklusif perlu ditingkatkan dengan cara yang lebih baik. Lingkungan sekolah harus menjadi miniatur masyarakat yang toleran untuk membentuk karakter siswa yang moderat dalam hal apapun. Kebijakan madrasah harus menjamin hak-hak seluruh siswa tanpa diskriminasi, baik dalam kegiatan sosial maupun kegiatan ekstrakurikuler. Penguatan Budaya Sekolah (School Culture) sangat penting dengan cara mengembangkan tradisi dialog, apresiasi terhadap keberagaman, dan kebiasaan saling membantu (humanitarian project) sebagai bagian dari aktivitas rutin yang dilakukan siswa di madrasah.   KESIMPULAN Moderasi beragama bukanlah pilihan sukarela, melainkan sebuah keniscayaan bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Upaya merawat toleransi dan kerukunan tidak cukup hanya diikat oleh aturan hukum atau slogan politik, melainkan harus diakar secara mendalam dalam diri setiap warga negara melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menawarkan pendekatan pedagogis yang humanis, komprehensif, dan transformatif. Dengan menanamkan dalam diri setiap siswa tentang rasa cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada tanah air. Dalam hal ini kita sedang membangun generasi masa depan yang memiliki keteguhan iman tanpa harus membenci perbedaan, serta memiliki kelembutan hati untuk merangkul sesama. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) inilah, pohon moderasi beragama dipupuk sehingga tumbuh rindang, berakar kuat, dan berbuah manis berupa perdamaian serta harmoni bagi Indonesia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (ARIF)   DAFTAR PUSTAKA Ali, M. (2020). Pendidikan Islam dan moderasi beragama: Mengembangkan sikap inklusif dan toleran di sekolah. Kencana. Azra, A. (2019). Reinterpretasi tradisi keagamaan: Islam, inklusivisme, dan kebhinekaan. Gramedia Pustaka Utama. Freire, P. (2018). Pendidikan kaum tertindas (A. Utomo, Penerjemah). LP3ES. (Karya asli diterbitkan 1970). Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang moderasi beragama. Lentera Hati. Zamroni, Z. (2022). Metodologi pembelajaran berbasis kasih sayang (love-based pedagogy) dalam membangun karakter siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, 10(2), 112–126.  
Selengkapnya
Gambar Dukung Optimalisasi Potensi, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata Gelar Pelatihan Manajemen Media Sosial
21-10-2026, 08:27

Dukung Optimalisasi Potensi, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata Gelar Pelatihan Manajemen Media Sosial

Jepara (MTs-MA NU Nahdlatul Fata) — Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata menggelar kegiatan manajemen media sosial yang ditujukan kepada admin kelas. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Komputer pada Senin (19/10/2026). 27 peserta yang hadir diantaranya adalah admin medsos kelas dan Unit Ekstrakurikuler. Kegiatan pelatihan ini juga turut dihadiri oleh Kepala MTs. Nahdlatul Fata Petekeyan Ma’ruf, S.E., M.Pd. pelatihan dibuka dengan sambutan oleh Bapak Ma’ruf yang menyampaikan apresiasi atas terlaksanannya pelatihan ini. beliau juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah bersama dalam memaksimalkan potensi siswa-siswi. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Pimpinan Komisariat IPPNU MA NU Nahdlatul Fata Novya Ihda Valasifa. Dalam sambutannya, Via berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama yang baik antara para peserta dan Tim Media Madrasah untuk bersama-sama mengembangkan potensi dan berkolaborasi. “Kami berharap pelatihan ini tetap dapat dilanjutkan dengan kerja sama yang terjalin, sehingga kolaborasi dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi pengembangan potensi media di MTs-MA NU Nahdlatul Fata” ungkap Via. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, tahlil dan menyanyika lagu Indonesia Raya serta Mars IPNU-IPPNU sebagai identitas yang perlu dijaga oleh rekan-rekanita IPNU-IPPNU. Kegiatan pelatihan ini dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi. Pada sesi materi ini diisi oleh Khoirul Anam (Alumni MTs-MA Nafa) yang juga aktif sebagai pegiat medsos di Kabupaten Jepara. Pembahasan pentingnya manajemen media sosial dalam mendukung optimalisasi media di era digital. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan konten berbasis narasi cerita (storytelling-based) dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi audiens. Dalam sesinya, Anam juga menyampaikan bahwa konten yang menarik dan edukatif sangat ditekankan untuk para pelajar dalam mengasah skill tersebut. Tidak berhenti pada pemaparan materi pserta kemudian diajak sharring session dan Tanya jawab interaktif, melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep perencanaan konten, tetapi juga mengaplikasikannya . Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian cinderamata untuk peserta yang aktif dan mampu menjawab pertanyaan pemateri. (Ar)
Selengkapnya
Gambar Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan Gelar Pelatihan Karya Tulis Ilmiah,  Bekali Siswa-Siswi Berpikir Logis, Sistematis, Serta Berbasis Data Dan Fakta.
21-10-2026, 08:08

Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan Gelar Pelatihan Karya Tulis Ilmiah, Bekali Siswa-Siswi Berpikir Logis, Sistematis, Serta Berbasis Data Dan Fakta.

Jepara (MA NU Nahdlatul Fata) – Madrasah Aliyah NU Nahdlatul Fata melalui Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah bagi pengurus Komisariat dan murid Kelas XII pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini diikuti 30 peserta dengan pendampingan guru Allena Salmahayya Alwafa, S.Pd. (Mentor Tim Riset MA NU Nafa) sekaligus sebagai pemateri dan menjadi bagian dari penguatan literasi serta kreativitas murid.  Kepala MA NU Nahdlatul Fata, Fathur Rohman, S.Pd.I., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan literasi ilmiah sekaligus kreativitas murid di era digital, beliau juga menyampaikan قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ Ikatlah Ilmu dengan Tulisan, Yang dimaksud qayyidul 'ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengarkan, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu terikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah alasannya mengapa penting untuk dicatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Luthfi Jazilul Ihtirom sebagai Ketua Pimpinan Komisariat IPNU MA NU Nahdlatul Fata menyampaikan “Melalui pelatihan ini, kami berharap murid MA NU Nahdlatul Fata tidak hanya mampu menulis karya ilmiah dengan baik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara kreatif berbasis data. ini merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya. Memasuki sesi inti, kegiatan ini akan dilaksanakan dalam tiga tahap (Teori, Praktik dan Evaluasi). Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan di Laboratorium Komputer dengan narasumber Allena Salmahayya Alwafa, S.Pd., Dalam pemaparannya, Allena  menekankan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah merupakan bekal penting bagi murid dalam mengembangkan pola pikir yang kritis dan sistematis. “Menulis karya ilmiah melatih murid untuk berpikir logis, sistematis, serta berbasis data dan fakta. Dengan keterampilan ini, murid dapat menuangkan ide dan gagasan mereka secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan, Berani Menggagas Cerdas Menulis” jelasnya. Setelah sesi pelatihan, peserta diberi tugas secara berkelompok untuk menjadi tugas dipertemuan selanjutnya. Melalui kegiatan ini, MA NU Nahdlatul Fata berharap murid dapat semakin terampil dalam mengembangkan literasi ilmiah sekaligus kreativitas dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran dan publikasi karya. (Ar)
Selengkapnya
Gambar Tembus 8 Besar Kejurnas Catur ITB, Akhsan Thoriqul Akbar Buktikan Prestasi Kelas Nasional
27-09-2026, 11:09

Tembus 8 Besar Kejurnas Catur ITB, Akhsan Thoriqul Akbar Buktikan Prestasi Kelas Nasional

BANDUNG —Akhsan Thoriqul Akbar,  siswa MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan, berhasil mengukir prestasi memukau dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur Pelajar se-Indonesia yang diselenggarakan pada 26 September 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Bersaing ketat dengan pecatur muda terbaik dari berbagai penjuru tanah air, Thoriq sukses mengamankan posisi 10 besar nasional dengan meraih peringkat ke-8. Capaian ini menjadi bukti nyata kapasitas dan daya saing siswa madrasah di kancah nasional. Meski belum berhasil menembus posisi tiga besar yang menjadi syarat untuk mewakili Indonesia pada Kejuaraan Catur Dunia di Uzbekistan, hasil yang diraih Thoriq dipandang sebagai pemicu semangat dan lompatan besar bagi reputasi sekolah. Keberhasilan ini bukanlah hasil yang didapat secara instan. Pihak madrasah dan tim pendamping telah melakukan persiapan matang selama dua bulan penuh, termasuk menghadirkan pelatih catur profesional untuk menggembleng intensitas latihan Thoriq. Perwakilan orang tua sekaligus pendamping menyampaikan bahwa perjuangan maksimal telah dikerahkan di atas papan catur, diiringi doa serta harapan besar untuk melambungkan nama MA NU Nahdlatul Falah di kancah nasional. "Setiap langkah kami diiringi doa dan harapan untuk membawa nama madrasah mengudara setinggi-tingginya. Hasil ini membuktikan bahwa persiapannya tidak main-main. Melalui pembinaan rutin dan pelatih profesional, MA NU Nahdlatul Falah terbukti mampu duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan sekolah-sekolah bertaraf nasional hingga internasional," ungkapnya. Capaian di ITB Bandung ini menegaskan komitmen berkelanjutan madrasah dalam memberikan ruang, fasilitas, dan dukungan penuh bagi potensi peserta didik. Diharapkan, iklim pembinaan yang konsisten ini terus melahirkan atlet-atlet berbakat yang siap mengharumkan nama madrasah di level tertinggi pada masa-masa mendatang.   Sub
Selengkapnya
Gambar PAHLAWAN OLAHRAGA
09-09-2026, 10:34

PAHLAWAN OLAHRAGA

Guru olahraga sering disebut sebagai pahlawan karena membentuk generasi yang sehat, kuat, dan berkarakter. Guru olahraga kerap kali mengajarkan pentingnya kesehatan dengan pola hidup aktif, membentuk karakter disiplin dan sportivitas, serta melatih bakat anak peserta didik menjadi sang juara. Sosok tersebut tersemat kepada Bapak Muhlisin, beliau adalah Pelatih Nafa FC, klub sepak bola kebanggaan MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan Tahunan Jepara. Berkat beliau beserta sahabat karibnya Bapak Ma’ruf dan kolega, Nafa FC berhasil masuk dalam Asprov PSSI Kabupaten Jepara, selain itu prestasi membanggakan juga pernah ditorehkan antara lain Juara 1 Liga Kabupaten 2011 di Lapangan Datuk Ampel Troso, kemudian memperoleh Juara 3 Liga Pelajar 2015 di Lapangan Sukodono, dan bermain reguler di liga Divisi Asprov PSSI Kabupaten Jepara. Namun berita duka mendadak menjadi suasana haru biru, Bapak Muhlisin yang beralamatkan di Desa Tahunan Jepara menghembuskan nafas terakhirnya pada Pukul 20.00 WIB hari 8 Selasa September 2026. Kiprah dan perjuangannya layak diapresiasi sebagai pahlawan olahraga, karena keseharian beliau tidak lepas dari kegiatan olahraga, selain menjadi guru olahraga dan pelatih sepak bola, Bapak Muhlisin juga aktif diberbagai organisasi antara lain MGMP PJOK KKMTs 02 Jepara serta menjadi Asosiasi Wasit Sepak Bola PSSI Jepara. Semoga karya karsa beliau tetap harum, segala amal perbuatan diterima oleh Allah SWT. Aamiin.   AA
Selengkapnya
© 2026 MTs MA NU Nahdlatul Fata. All Rights Reserved Eegyo SIMS - Aplikasi Sekolah Super Lengkap