21-10-2026, 10:19 WIB
Admin
Sebagai guru kami menyadari bahwa moderasi beragama sangat penting sebagai dasar murid untuk menghadapi dunia yang selalu dinamis dan berubah-ubah saat ini. Sehingga perlu pembelajaran untuk menata diri agar dapat fleksibel (lentur) dalam menghadapi setiap perbedaan apalalagi kita hidup pada masyarakat dengan mayoritas Muslim di Jepara. Hal ini sangat penting karena di masa depan nanti akan lebih menantang dari zaman sekarang akibat perubahan sosial yang semakin masif. Jika dasar fleksibilitas tersebut tidak dimiliki anak maka di masa depan nanti akan menjadi bumerang dan menghambat kemajuan dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.
Dapat kita lihat dalam beberapa dekade terakhir ini, tantangan dalam beragama kerap diwarnai oleh klaim kebenaran tunggal, sikap intoleran, dan prasangka buruk antar kelompok. Fenomena ini kerap kali masuk ke lingkungan pendidikan formal, tempat di mana generasi muda dibentuk. Madrasah yang seharusnya menjadi ruang inklusif dan ramah keragaman kadang kala justru menjadi persemaian benih-benih egoisme diri.
Oleh karena itu, gagasan moderasi beragama menjadi agenda penting nasional untuk memupuk toleransi pada generasi muda Indonesia. Moderasi beragama bukan berarti memoderasi dalam agama itu sendiri, karena agama pada hakikatnya sudah sempurna dan mengajarkan kebaikan. Memoderasi adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama pemeluknya agar tetap berada di jalur tengah (wasathiyah). Untuk mewujudkan hal tersebut secara berkelanjutan, pendidikan adalah benteng utama. Disinilah pentingnya menghadirkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi pedagogis untuk memupuk moderasi beragama sejak dini.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah sekadar tumpukan materi pelajaran baru, melainkan sebuah orientasi dan metodologi dalam proses pembelajaran. Cinta dalam konteks ini dipahami sebagai empati yang mendalam, rasa hormat terhadap martabat kemanusiaan, serta dorongan untuk mengasihi sesama makhluk tanpa dibatasi oleh sekat dogmatis.
Selama ini, pendidikan agama kerap berfokus pada dimensi formal, tekstual, dan doktrinal yang kaku. Pembelajaran agama seringkali terjebak pada dikotomi penekanan fikih atau tata hukum yang berpusat pada surga dan neraka, serta menanamkan sikap defensif terhadap kelompok luar (agama lain). Jika pendekatan tersebut tanpa dibentengi oleh rasa cinta dan kemanusiaan, maka akan rentan melahirkan manusia yang cakap secara ritual, tetapi tumpul secara sosial dan emosional.
Kurikulum berbasis cinta mengalihkan titik tekan pembelajaran dari ketakutan menuju kasih sayang. Pendidikan agama dan kewarganegaraan dirancang untuk mengetuk pintu hati murid, mengasah kepekaan nurani, dan menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh manusia adalah saudara dalam kemanusiaan. Sebagaimana ungkapan masyhur Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Sehingga kasih sayang kepada sesama manusia sangat penting dalam mengasah moderasi beragama.
Penerapan kurikulum berbasis cinta untuk memupuk moderasi beragama dapat ditopang melalui empat pilar utama:
Langkah awal dari kurikulum berbasis cinta adalah membangun literasi keagamaan yang benar dan inklusif. Ketakutan dan kebencian terhadap kelompok lain sering kali bersumber dari ketidaktahuan seseorang. Kurikulum harus menyediakan ruang dialog interaktif yang memungkinkan siswa memahami ajaran dasar agama-agama lain secara objektif dan bernuansa rasa hormat. Materi ajaran difokuskan pada hal-hal yang universal yang berkaitan dengan kepentingan seluruh umat beragama, seperti ajaran tentang perdamaian, keadilan, kejujuran, dan belas kasih yang ada di setiap agama.
Cinta mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan saat berhadapan dengan perbedaan. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, siswa diajarkan untuk melihat pemeluk agama lain sebagai manusia yang sama di mata Tuhan YME. Pendidikan menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh mengurangi hak-hak dasar seorang manusia untuk dicintai, dihormati, dan dilindungi. Ketika rasa cinta kepada kemanusiaan telah mengakar, dogmatisme kaku akan luntur dengan sendirinya.
Cinta dan kasih sayang tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah satu arah atau hafalan teks saja, cinta dan kasih sayang itu harus dirasakan dan dipraktikkan. Oleh karena itu, metodologi pembelajaran harus bergeser ke arah pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Madrasah dapat merancang kegiatan sosial lintas iman, kunjungan budaya, hingga kerja bakti di lingkungan yang melibatkan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda. Melalui interaksi nyata ini, siswa mengalami langsung indahnya kebersamaan dan menumbuhkan empati sosial yang kuat.
Guru adalah muara utama dari Kurikulum Berbasis Cinta. Guru yang moderat dan penuh kasih akan memancarkan energi positif di kelas. Dalam kurikulum ini, guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi juga sebagai fasilitator jiwa (nurturer of soul). Guru harus memiliki sikap terbuka, tidak menghakimi, serta menjadi teladan dalam menghargai perbedaan pendapat di dalam ruang kelas.
Mengintegrasikan kurikulum berbasis cinta ke dalam sistem pendidikan nasional tidak harus berarti merombak seluruh struktur kurikulum yang ada, melainkan memasukkan nilai, pendekatan, dan suasana belajar yang berorientasi pada kasih sayang ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila.
Strategi pengoreksian bahan ajar perlu ditingkatkan menjadi lebih baik. Bahan ajar perlu dibersihkan dari narasi-narasi kebencian atau sudut pandang yang dapat merendahkan keyakinan orang lain. Narasi yang diangkat adalah kisah-kisah keteladanan tokoh-tokoh perdamaian, toleransi, dan aksi kemanusiaan tanpa memandang sekat agama dan sosial.
Penciptaan Ekosistem Sekolah yang Ramah dan Inklusif perlu ditingkatkan dengan cara yang lebih baik. Lingkungan sekolah harus menjadi miniatur masyarakat yang toleran untuk membentuk karakter siswa yang moderat dalam hal apapun. Kebijakan madrasah harus menjamin hak-hak seluruh siswa tanpa diskriminasi, baik dalam kegiatan sosial maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Penguatan Budaya Sekolah (School Culture) sangat penting dengan cara mengembangkan tradisi dialog, apresiasi terhadap keberagaman, dan kebiasaan saling membantu (humanitarian project) sebagai bagian dari aktivitas rutin yang dilakukan siswa di madrasah.
Moderasi beragama bukanlah pilihan sukarela, melainkan sebuah keniscayaan bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Upaya merawat toleransi dan kerukunan tidak cukup hanya diikat oleh aturan hukum atau slogan politik, melainkan harus diakar secara mendalam dalam diri setiap warga negara melalui jalur pendidikan formal maupun non formal.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menawarkan pendekatan pedagogis yang humanis, komprehensif, dan transformatif. Dengan menanamkan dalam diri setiap siswa tentang rasa cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada tanah air. Dalam hal ini kita sedang membangun generasi masa depan yang memiliki keteguhan iman tanpa harus membenci perbedaan, serta memiliki kelembutan hati untuk merangkul sesama. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) inilah, pohon moderasi beragama dipupuk sehingga tumbuh rindang, berakar kuat, dan berbuah manis berupa perdamaian serta harmoni bagi Indonesia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (ARIF)
Ali, M. (2020). Pendidikan Islam dan moderasi beragama: Mengembangkan sikap inklusif dan toleran di sekolah. Kencana.
Azra, A. (2019). Reinterpretasi tradisi keagamaan: Islam, inklusivisme, dan kebhinekaan. Gramedia Pustaka Utama.
Freire, P. (2018). Pendidikan kaum tertindas (A. Utomo, Penerjemah). LP3ES. (Karya asli diterbitkan 1970).
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang moderasi beragama. Lentera Hati.
Zamroni, Z. (2022). Metodologi pembelajaran berbasis kasih sayang (love-based pedagogy) dalam membangun karakter siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, 10(2), 112–126.
Artikel Lainnya
HIMMAH DAN KONSISTENSI YANG TAK PERNAH HENTI
لِكُلٍّ إِلَى شَأْوِ الْعُلَا حَرَكَاتٌ وَلَكِنْ عَزِيزٌ فِي الرِّجَالِ ثَبَاتُ "Setiap orang memiliki usaha untuk mencapai derajat yang tinggi, tetapi hanya sedikit orang yang mampu tetap teguh dan konsisten." (Ta'limul Muta'allim) Dari Madrasah dan Pesantren kita belajar bahwa himmah yang tinggi sudah seharusnya diiringi dengan konsistensi yang tak pernah henti. Sebab, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah atau seberapa tinggi kita mencapai cita-cita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga niat, adab, dan ketawadhuan dalam setiap langkahnya. Dan sejauh apa pun kita berlayar, sehebat apa pun kita nanti, jangan pernah lupa bahwa kita tetaplah santri yang senantiasa butuh akan mengaji dan tholabul ilmi. Sebab, ilmu bukan sekadar untuk meninggikan derajat diri, melainkan juga untuk memberikan manfaat bagi sesama serta mendekatkan diri kepada Sang ilahi rabbi. Semoga dimapun Kita berada, keberkahan doa para guru dan kiai senantiasa menyertai setiap ikhtiar kita semua. Selamat Hari Santri Nasional 2026. (Ahmad Dhiyaul Wahid - France)MEMUPUK MODERASI BERAGAMA, MELALUI KURIKULUM BERBASIS CINTA
PENDAHULUAN Sebagai guru kami menyadari bahwa moderasi beragama sangat penting sebagai dasar murid untuk menghadapi dunia yang selalu dinamis dan berubah-ubah saat ini. Sehingga perlu pembelajaran untuk menata diri agar dapat fleksibel (lentur) dalam menghadapi setiap perbedaan apalalagi kita hidup pada masyarakat dengan mayoritas Muslim di Jepara. Hal ini sangat penting karena di masa depan nanti akan lebih menantang dari zaman sekarang akibat perubahan sosial yang semakin masif. Jika dasar fleksibilitas tersebut tidak dimiliki anak maka di masa depan nanti akan menjadi bumerang dan menghambat kemajuan dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045. Dapat kita lihat dalam beberapa dekade terakhir ini, tantangan dalam beragama kerap diwarnai oleh klaim kebenaran tunggal, sikap intoleran, dan prasangka buruk antar kelompok. Fenomena ini kerap kali masuk ke lingkungan pendidikan formal, tempat di mana generasi muda dibentuk. Madrasah yang seharusnya menjadi ruang inklusif dan ramah keragaman kadang kala justru menjadi persemaian benih-benih egoisme diri. Oleh karena itu, gagasan moderasi beragama menjadi agenda penting nasional untuk memupuk toleransi pada generasi muda Indonesia. Moderasi beragama bukan berarti memoderasi dalam agama itu sendiri, karena agama pada hakikatnya sudah sempurna dan mengajarkan kebaikan. Memoderasi adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama pemeluknya agar tetap berada di jalur tengah (wasathiyah). Untuk mewujudkan hal tersebut secara berkelanjutan, pendidikan adalah benteng utama. Disinilah pentingnya menghadirkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi pedagogis untuk memupuk moderasi beragama sejak dini. PENTINGNYA CINTA DALAM MEMUPUK MODERASI BERAGAMA Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah sekadar tumpukan materi pelajaran baru, melainkan sebuah orientasi dan metodologi dalam proses pembelajaran. Cinta dalam konteks ini dipahami sebagai empati yang mendalam, rasa hormat terhadap martabat kemanusiaan, serta dorongan untuk mengasihi sesama makhluk tanpa dibatasi oleh sekat dogmatis. Selama ini, pendidikan agama kerap berfokus pada dimensi formal, tekstual, dan doktrinal yang kaku. Pembelajaran agama seringkali terjebak pada dikotomi penekanan fikih atau tata hukum yang berpusat pada surga dan neraka, serta menanamkan sikap defensif terhadap kelompok luar (agama lain). Jika pendekatan tersebut tanpa dibentengi oleh rasa cinta dan kemanusiaan, maka akan rentan melahirkan manusia yang cakap secara ritual, tetapi tumpul secara sosial dan emosional. Kurikulum berbasis cinta mengalihkan titik tekan pembelajaran dari ketakutan menuju kasih sayang. Pendidikan agama dan kewarganegaraan dirancang untuk mengetuk pintu hati murid, mengasah kepekaan nurani, dan menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh manusia adalah saudara dalam kemanusiaan. Sebagaimana ungkapan masyhur Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Sehingga kasih sayang kepada sesama manusia sangat penting dalam mengasah moderasi beragama. PILAR UTAMA PEMBENTUKAN MODERASI BERAGAMA Penerapan kurikulum berbasis cinta untuk memupuk moderasi beragama dapat ditopang melalui empat pilar utama: Literasi Keagamaan yang benar dan Inklusif Langkah awal dari kurikulum berbasis cinta adalah membangun literasi keagamaan yang benar dan inklusif. Ketakutan dan kebencian terhadap kelompok lain sering kali bersumber dari ketidaktahuan seseorang. Kurikulum harus menyediakan ruang dialog interaktif yang memungkinkan siswa memahami ajaran dasar agama-agama lain secara objektif dan bernuansa rasa hormat. Materi ajaran difokuskan pada hal-hal yang universal yang berkaitan dengan kepentingan seluruh umat beragama, seperti ajaran tentang perdamaian, keadilan, kejujuran, dan belas kasih yang ada di setiap agama. Mengutamakan Nilai Kemanusiaan daripada Dogmatisme yang Kaku Cinta mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan saat berhadapan dengan perbedaan. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, siswa diajarkan untuk melihat pemeluk agama lain sebagai manusia yang sama di mata Tuhan YME. Pendidikan menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh mengurangi hak-hak dasar seorang manusia untuk dicintai, dihormati, dan dilindungi. Ketika rasa cinta kepada kemanusiaan telah mengakar, dogmatisme kaku akan luntur dengan sendirinya. Penerapan Pembelajaran Berbasis Pengalaman Cinta dan kasih sayang tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah satu arah atau hafalan teks saja, cinta dan kasih sayang itu harus dirasakan dan dipraktikkan. Oleh karena itu, metodologi pembelajaran harus bergeser ke arah pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Madrasah dapat merancang kegiatan sosial lintas iman, kunjungan budaya, hingga kerja bakti di lingkungan yang melibatkan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda. Melalui interaksi nyata ini, siswa mengalami langsung indahnya kebersamaan dan menumbuhkan empati sosial yang kuat. Keteladanan Pendidik Guru adalah muara utama dari Kurikulum Berbasis Cinta. Guru yang moderat dan penuh kasih akan memancarkan energi positif di kelas. Dalam kurikulum ini, guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi juga sebagai fasilitator jiwa (nurturer of soul). Guru harus memiliki sikap terbuka, tidak menghakimi, serta menjadi teladan dalam menghargai perbedaan pendapat di dalam ruang kelas. IMPLIKASI DAN STRATEGI IMPLEMENTASI DI SEKOLAH Mengintegrasikan kurikulum berbasis cinta ke dalam sistem pendidikan nasional tidak harus berarti merombak seluruh struktur kurikulum yang ada, melainkan memasukkan nilai, pendekatan, dan suasana belajar yang berorientasi pada kasih sayang ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila. Strategi pengoreksian bahan ajar perlu ditingkatkan menjadi lebih baik. Bahan ajar perlu dibersihkan dari narasi-narasi kebencian atau sudut pandang yang dapat merendahkan keyakinan orang lain. Narasi yang diangkat adalah kisah-kisah keteladanan tokoh-tokoh perdamaian, toleransi, dan aksi kemanusiaan tanpa memandang sekat agama dan sosial. Penciptaan Ekosistem Sekolah yang Ramah dan Inklusif perlu ditingkatkan dengan cara yang lebih baik. Lingkungan sekolah harus menjadi miniatur masyarakat yang toleran untuk membentuk karakter siswa yang moderat dalam hal apapun. Kebijakan madrasah harus menjamin hak-hak seluruh siswa tanpa diskriminasi, baik dalam kegiatan sosial maupun kegiatan ekstrakurikuler. Penguatan Budaya Sekolah (School Culture) sangat penting dengan cara mengembangkan tradisi dialog, apresiasi terhadap keberagaman, dan kebiasaan saling membantu (humanitarian project) sebagai bagian dari aktivitas rutin yang dilakukan siswa di madrasah. KESIMPULAN Moderasi beragama bukanlah pilihan sukarela, melainkan sebuah keniscayaan bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Upaya merawat toleransi dan kerukunan tidak cukup hanya diikat oleh aturan hukum atau slogan politik, melainkan harus diakar secara mendalam dalam diri setiap warga negara melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menawarkan pendekatan pedagogis yang humanis, komprehensif, dan transformatif. Dengan menanamkan dalam diri setiap siswa tentang rasa cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada tanah air. Dalam hal ini kita sedang membangun generasi masa depan yang memiliki keteguhan iman tanpa harus membenci perbedaan, serta memiliki kelembutan hati untuk merangkul sesama. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) inilah, pohon moderasi beragama dipupuk sehingga tumbuh rindang, berakar kuat, dan berbuah manis berupa perdamaian serta harmoni bagi Indonesia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (ARIF) DAFTAR PUSTAKA Ali, M. (2020). Pendidikan Islam dan moderasi beragama: Mengembangkan sikap inklusif dan toleran di sekolah. Kencana. Azra, A. (2019). Reinterpretasi tradisi keagamaan: Islam, inklusivisme, dan kebhinekaan. Gramedia Pustaka Utama. Freire, P. (2018). Pendidikan kaum tertindas (A. Utomo, Penerjemah). LP3ES. (Karya asli diterbitkan 1970). Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang moderasi beragama. Lentera Hati. Zamroni, Z. (2022). Metodologi pembelajaran berbasis kasih sayang (love-based pedagogy) dalam membangun karakter siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, 10(2), 112–126.Dukung Optimalisasi Potensi, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata Gelar Pelatihan Manajemen Media Sosial
Jepara (MTs-MA NU Nahdlatul Fata) — Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata menggelar kegiatan manajemen media sosial yang ditujukan kepada admin kelas. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Komputer pada Senin (19/10/2026). 27 peserta yang hadir diantaranya adalah admin medsos kelas dan Unit Ekstrakurikuler. Kegiatan pelatihan ini juga turut dihadiri oleh Kepala MTs. Nahdlatul Fata Petekeyan Ma’ruf, S.E., M.Pd. pelatihan dibuka dengan sambutan oleh Bapak Ma’ruf yang menyampaikan apresiasi atas terlaksanannya pelatihan ini. beliau juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah bersama dalam memaksimalkan potensi siswa-siswi. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Pimpinan Komisariat IPPNU MA NU Nahdlatul Fata Novya Ihda Valasifa. Dalam sambutannya, Via berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama yang baik antara para peserta dan Tim Media Madrasah untuk bersama-sama mengembangkan potensi dan berkolaborasi. “Kami berharap pelatihan ini tetap dapat dilanjutkan dengan kerja sama yang terjalin, sehingga kolaborasi dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi pengembangan potensi media di MTs-MA NU Nahdlatul Fata” ungkap Via. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, tahlil dan menyanyika lagu Indonesia Raya serta Mars IPNU-IPPNU sebagai identitas yang perlu dijaga oleh rekan-rekanita IPNU-IPPNU. Kegiatan pelatihan ini dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi. Pada sesi materi ini diisi oleh Khoirul Anam (Alumni MTs-MA Nafa) yang juga aktif sebagai pegiat medsos di Kabupaten Jepara. Pembahasan pentingnya manajemen media sosial dalam mendukung optimalisasi media di era digital. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan konten berbasis narasi cerita (storytelling-based) dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi audiens. Dalam sesinya, Anam juga menyampaikan bahwa konten yang menarik dan edukatif sangat ditekankan untuk para pelajar dalam mengasah skill tersebut. Tidak berhenti pada pemaparan materi pserta kemudian diajak sharring session dan Tanya jawab interaktif, melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep perencanaan konten, tetapi juga mengaplikasikannya . Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian cinderamata untuk peserta yang aktif dan mampu menjawab pertanyaan pemateri. (Ar)Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan Gelar Pelatihan Karya Tulis Ilmiah, Bekali Siswa-Siswi Berpikir Logis, Sistematis, Serta Berbasis Data Dan Fakta.
Jepara (MA NU Nahdlatul Fata) – Madrasah Aliyah NU Nahdlatul Fata melalui Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah bagi pengurus Komisariat dan murid Kelas XII pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini diikuti 30 peserta dengan pendampingan guru Allena Salmahayya Alwafa, S.Pd. (Mentor Tim Riset MA NU Nafa) sekaligus sebagai pemateri dan menjadi bagian dari penguatan literasi serta kreativitas murid. Kepala MA NU Nahdlatul Fata, Fathur Rohman, S.Pd.I., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan literasi ilmiah sekaligus kreativitas murid di era digital, beliau juga menyampaikan قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ Ikatlah Ilmu dengan Tulisan, Yang dimaksud qayyidul 'ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengarkan, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu terikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah alasannya mengapa penting untuk dicatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka. Luthfi Jazilul Ihtirom sebagai Ketua Pimpinan Komisariat IPNU MA NU Nahdlatul Fata menyampaikan “Melalui pelatihan ini, kami berharap murid MA NU Nahdlatul Fata tidak hanya mampu menulis karya ilmiah dengan baik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara kreatif berbasis data. ini merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya. Memasuki sesi inti, kegiatan ini akan dilaksanakan dalam tiga tahap (Teori, Praktik dan Evaluasi). Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan di Laboratorium Komputer dengan narasumber Allena Salmahayya Alwafa, S.Pd., Dalam pemaparannya, Allena menekankan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah merupakan bekal penting bagi murid dalam mengembangkan pola pikir yang kritis dan sistematis. “Menulis karya ilmiah melatih murid untuk berpikir logis, sistematis, serta berbasis data dan fakta. Dengan keterampilan ini, murid dapat menuangkan ide dan gagasan mereka secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan, Berani Menggagas Cerdas Menulis” jelasnya. Setelah sesi pelatihan, peserta diberi tugas secara berkelompok untuk menjadi tugas dipertemuan selanjutnya. Melalui kegiatan ini, MA NU Nahdlatul Fata berharap murid dapat semakin terampil dalam mengembangkan literasi ilmiah sekaligus kreativitas dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran dan publikasi karya. (Ar)Tembus 8 Besar Kejurnas Catur ITB, Akhsan Thoriqul Akbar Buktikan Prestasi Kelas Nasional
BANDUNG —Akhsan Thoriqul Akbar, siswa MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan, berhasil mengukir prestasi memukau dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur Pelajar se-Indonesia yang diselenggarakan pada 26 September 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Bersaing ketat dengan pecatur muda terbaik dari berbagai penjuru tanah air, Thoriq sukses mengamankan posisi 10 besar nasional dengan meraih peringkat ke-8. Capaian ini menjadi bukti nyata kapasitas dan daya saing siswa madrasah di kancah nasional. Meski belum berhasil menembus posisi tiga besar yang menjadi syarat untuk mewakili Indonesia pada Kejuaraan Catur Dunia di Uzbekistan, hasil yang diraih Thoriq dipandang sebagai pemicu semangat dan lompatan besar bagi reputasi sekolah. Keberhasilan ini bukanlah hasil yang didapat secara instan. Pihak madrasah dan tim pendamping telah melakukan persiapan matang selama dua bulan penuh, termasuk menghadirkan pelatih catur profesional untuk menggembleng intensitas latihan Thoriq. Perwakilan orang tua sekaligus pendamping menyampaikan bahwa perjuangan maksimal telah dikerahkan di atas papan catur, diiringi doa serta harapan besar untuk melambungkan nama MA NU Nahdlatul Falah di kancah nasional. "Setiap langkah kami diiringi doa dan harapan untuk membawa nama madrasah mengudara setinggi-tingginya. Hasil ini membuktikan bahwa persiapannya tidak main-main. Melalui pembinaan rutin dan pelatih profesional, MA NU Nahdlatul Falah terbukti mampu duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan sekolah-sekolah bertaraf nasional hingga internasional," ungkapnya. Capaian di ITB Bandung ini menegaskan komitmen berkelanjutan madrasah dalam memberikan ruang, fasilitas, dan dukungan penuh bagi potensi peserta didik. Diharapkan, iklim pembinaan yang konsisten ini terus melahirkan atlet-atlet berbakat yang siap mengharumkan nama madrasah di level tertinggi pada masa-masa mendatang. SubPAHLAWAN OLAHRAGA
Guru olahraga sering disebut sebagai pahlawan karena membentuk generasi yang sehat, kuat, dan berkarakter. Guru olahraga kerap kali mengajarkan pentingnya kesehatan dengan pola hidup aktif, membentuk karakter disiplin dan sportivitas, serta melatih bakat anak peserta didik menjadi sang juara. Sosok tersebut tersemat kepada Bapak Muhlisin, beliau adalah Pelatih Nafa FC, klub sepak bola kebanggaan MTs-MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan Tahunan Jepara. Berkat beliau beserta sahabat karibnya Bapak Ma’ruf dan kolega, Nafa FC berhasil masuk dalam Asprov PSSI Kabupaten Jepara, selain itu prestasi membanggakan juga pernah ditorehkan antara lain Juara 1 Liga Kabupaten 2011 di Lapangan Datuk Ampel Troso, kemudian memperoleh Juara 3 Liga Pelajar 2015 di Lapangan Sukodono, dan bermain reguler di liga Divisi Asprov PSSI Kabupaten Jepara. Namun berita duka mendadak menjadi suasana haru biru, Bapak Muhlisin yang beralamatkan di Desa Tahunan Jepara menghembuskan nafas terakhirnya pada Pukul 20.00 WIB hari 8 Selasa September 2026. Kiprah dan perjuangannya layak diapresiasi sebagai pahlawan olahraga, karena keseharian beliau tidak lepas dari kegiatan olahraga, selain menjadi guru olahraga dan pelatih sepak bola, Bapak Muhlisin juga aktif diberbagai organisasi antara lain MGMP PJOK KKMTs 02 Jepara serta menjadi Asosiasi Wasit Sepak Bola PSSI Jepara. Semoga karya karsa beliau tetap harum, segala amal perbuatan diterima oleh Allah SWT. Aamiin. AAFORPIS JEPARA GELAR LATGAB, MA NU NAFA AMBIL BAGIAN
FORPIS JEPARA GELAR LATGAB, MA NU NAFA AMBIL BAGIAN Jepara - Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS) Kabupaten Jepara melaksanakan Latgab dan Reorganisasi kepengurusan, kegiatan tersebut digelar pada 5-6 September 2026 di SMA Negeri 1 Tahunan. Forpis Jepara diikuti oleh MA/SMA/SMK se-Kabupaten Jepara. LATIHAN GABUNGAN & KONFERENSI FORPIS 2026/2027 merupakan satu bentuk kegiatan pembinaan yang merupakan ajang pertemuan PMR untuk saling berbagi, evaluasi, meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam suasana bersahabat dan partisipatif sesuai Siklus Manajemen PMR. Kegiatan ini yang merupakan salah satu strategi pembinaan dan pengembangan PMR yang dikemas untuk melakukan evaluasi dan pembinaan yang telah dilaksanakan PMI, sekaligus merancang peran dan kegiatan sukarelawan untuk mendukung dan melaksanakan program peningkatan Peran PMR dalam Pelayanan PMI Kabupaten Jepara. Juga merupakan program rutin dari PMI abupaten Jepara yang berada dalam naungan PMI Kabupaten Jepara guna Peningkatan Pembinaan Generasi Muda. Oleh karena itu, PMI Kabupaten Jepara akan menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan harapan setelah kegiatan tersebut dapat meningkatkan SDM Relawan PMI Kabupaten Jepara dimasa sekarang dan yang akan datang dengan tujuan melaksanakan siklus pembinaan relawan PMI Kabupaten Jepara supaya berkembang dengan baik. dengan mengusung tema “FROM LEARN TO LEAD: Forpis Youth Humanitarian Training”, berarti “Dari Belajar Menuju Memimpin”. MA NU Nahdlatul Fata melalui PMR Wira Bhakti Nafa mendelegasikan Erina Yustia Wardah (12 B) dan Fardan Jazilussakho (11 D), keduanya mendapatkan beragam materi, antara lain : Hari Pertama Pembukaan oleh Ketua/Pengurus PMI Kabupaten Jepara Pemberian Materi “SPEAK • ENGAGE • LEAD” Menjadi Fasilitator Muda yang Komunikatif, Interaktif, dan Inspiratif Creative Humanitarian Mission, berupa diskusi dan pemecahan misi secara berkelompok yang diiringi dengan pembuatan media presentasi bertema materi yang telah disampaikan, kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil misi dan karya sebagai sarana melatih kreativitas, kerja sama, dan public speaking peserta. Malam Keakraban dengan kegiatan berbagi pengalaman, kepemimpinan dan Kreatifitas pembuatan media edukasi. Hari Kedua Senam Pagi Konferensi pemilihan koordinator baru periode 2026/2027. Bentuk Kegiatan “FROM LEARN TO LEAD” FORPIS Youth Humanitarian Training Penyampaian materi Tukar Pendapat atau Tanya Jawab Diskusi Ragam materi latihan gabungan dalam yang diikuti adalah : Belajar Bersama, Berkarya, Berbicara, dan Bergerak untuk Kemanusiaan “FROM LEARN TO LEAD” FORPIS Youth Humanitarian Training Diskusi Kelompok Keterampilan Public Speaking Game 6 Materi Dasar Kepalangmerahan, meliputi; Pertolongan Pertama (PP) Fasilitator Pelatihan (FP) Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) Kesiapsiagaan Bencanma (KB) Perawatan Keluarga (PK) Kepemimpinan (KP) Kegiatan yang digelar selama 2 hari tersebut dilalui oleh wakil PMR Wira Bhakti Nafa dengan baik. “Kegiatan yang menyenangkan, banyak ilmu dan sharing materi yang mampu kita pelajari, semoga bisa menjadi pengalaman untuk kedepannya, Siamo tutti fratelli ” Ujar Erina. AAMenuju Juara, Delapan Siswa-Siswi Terbaik MA NU Nahdlatul Fata Siap Berkompetisi
Jepara - Kompetisi Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 merupakan ajang kompetisi bergengsi Sains dan Akademik yang diikuti oleh ratusan ribu peserta di seluruh penjuru negeri. OMI tingkat Kabupaten/Kota digelar pada Senin, 7 September 2026 di MAN 1 Jepara yang diikuti oleh 34 Madrasah Aliyah se Kabupaten Jepara. Bidang sains yang terdiri dari 210 peserta dan terbagi dalam mata lomba berikut : Matematika 38 Peserta Biologi 39 Peserta Fisika 29 Peserta Kimia 30 Peserta Ekonomi 39 Peserta Geografi 35 Peserta Sedangkan bidang riset diikuti oleh 8 Madrasah Aliyah dengan komposisi sebagai berikut : Bidang Ekologi 12 Peserta Bidang SDGs 9 Peserta Bidang Transdigital 6 Peserta MA NU Nahdlatul Fata mengirimkan perwakilan terbaiknya antara lain : Fikron Luthfi Hamdani (12 A / Matematika) Novia Ihda Valasifa (12 C / Geografi) Akhyas El Abied (11 A / Fisika) Zainil Abidin (11 A / Kimia) Kamila Sausa Nabila (11 A / Biologi) Lovy Queenvyla (12 D / Ekonomi) Melissa Andriani Majid (12 A / Riset) Safirotul Munawaroh (11 A / Riset) Persiapan dilalui dengan baik oleh binadamping, simulasi serta latihan soal telah dilaksanakan, semoga persiapan yang dilakukan berbuah hasil terbaik. AA